Surat Cinta Buat Sang BIDADARI ku { 2 }

Buat: UKHTY… di lubuk hati tepian rindu

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ba’da salam semoga dikau selalu terjaga dari segala hal yang bisa melemahkan kesucian diri, hingga sampai saat ini masih ku yakini sebagai diri yang memaknai hati dengan kelembutan penuh arti.

UKHTY…

Seutas tali terputus karena ketajaman belati, walau disambung kembali, buhul pengikat tetap tak bisa ditutupi. Serpihan kaca selamanya tiada arti, jika tak seorang pun yang mau ambil peduli, {untuk melanjutkan bacanya klik tautan contineu reading dibawah ini}

bongkahan rindu dilembah hijau toska tetap abadi, walaupun pepohonan merayu mendayu, melantunkan lagu rindu.

Mega senja dipucuk-pucuk bukit melantunkan syair mesra para pujangga, rembulan datang tawarkan penawar, namun tetap saja tawaran itu hanya penawar yang tawar. Setetes embun yang jatuh dari ujung daun dipagi hari, seakan ikut menemani luka hati yang kian dalam. Secuil asa tetap kudamba, seuntai harap tak jemu ku puja, seabad penantian belum berarti apa-apa.

Kicauan burung yang bertengger di atas dahan kamboja tua, bukan berarti penantian telah sirna, siraman bunga di pusara pada tanah yang masih merah bukan bermakna penantian telah tiada. Hingga tulang-belulang berserakan dalam lipatan kain kafan pun tak jua kan mampu mengahapuskan sebuah angan yang telah lama meraja dijiwa. Bahkan gedung yang menjulang tinggi, mencakar langit ketujuh menembus batas cahaya dalam ruang tak bertepi, berdiri kokoh diatas nisan sang pujangga, bukan penghalang bagi dambaan seorang pecinta.

Walau berlalu tanpa arti, walau pergi tak kembali, walau hilang tanpa kesan, walau lenyap tanpa pesan, semua itu tak bisa mengurai sebuah kemufakatan bahwa muara telah jenuh menanti aliran sungai, sungai yang telah lama mengering semenjak kemarau pada jutaan tahun silam. Bukan pula berarti bahwasanya ombak kan berhenti berteriak, memecah hening susasana pantai. Pantai suram yang tak ada kicauan camar, pantai muram yang tak ada lagi kehidupan, pantai sepi…hening…sunyi…seakan bumi tak berpenghuni.

UKHTY…

Biarkan di abad ini, bumi hangus terbakar api, api cinta para dewa yang mengintai bidadari-bidadari yang bertapa dalam goa yang gulita, goa yang dijaga ribuan naga dengan lidah api menjulur ketrotoar kota. Goa yang tersembunyi dibalik belantara keramaian para penjaja mahkota bunga. Bunga yang layu sebelum sempat mekar dan memberikan aroma pada putik-putik cinta. Bunga yang mengering sebelum sempat bersenggama dengan belaian angin penyejuk sukma.

o…..

Bunga syurga! Usah kau beri aku setitik rasa, karna itu hanya rayuan bagi pengkhianat cinta. Dan kau! Bunga api neraka! tiada guna kau takuti aku sebagai makanan lezat mu, karena itu hanya untuk menakuti anak-anak kecil yang usil dalam permainan mereka. Lebih baik kau bakar saja mereka yang kehilangan cinta, mereka takut mati karena cinta semu perbudakan dunia. Kau jilat saja kepala mereka! yang penuh dengan kebohongan, yang berjanji untuk dipungkiri, yang menyanyi dengan ratapan hati rerumputan negeri ini, yang menari sambil meminum keringat para gadis yang dirampas kehormatannya.

UKHTY…

Dikaulah yang tau arti semua ini, hanya dikaulah yang faham dengan apa yang ada dalam pesan-pesan ini. Jangan pula kau tak mau memberikan arti kepada kami yang belum menemukan arti diri. Daku yakin, dikaulah yang akan memberi makna bagi bait-bait cinta pujangga. Daku tau, sesungguhnya dikau masih memilih diam dalam dekapan Tuhanmu. Dikau tercinta malaikat-malaikat Tuhan yang menghamba diri sepanjang riwayat ini. Dikau pujaan para wali yang rela mati demi agama ini, dikau kesayangan para ibu yang kehilangan gadis kecilnya kala masih menangis karena akan merasa kepahitan dunia.

Hingga akhirnya nanti diri yang kerdil ini, kembali pada diri yang maha diri. Diri yang hadir pada setiap persidangan adil.

UKHTY…

Bantu daku menemukan keberadaan diri yang masih bersembunyi pada ego yang kian meninggi.

Salam pengendalian diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s